Kini sekolah terasa tak nyaman lagi. Persahabatan yang ada sudah menjadi abu. Tak jelas apakah masih putih atau sudah hitam. Semua tercampur bersatu membentuk warna baru yang ambigu. Tak ada lagi kebersamaan yang saat pertama kita datang menginjak bangunan ini selalu kita banggakan. Tak ada lagi belas kasihan kepada orang lain selain pada dirinya sendiri. Tak ada lagi keinginan untuk bersama sama maju dna belajar. Yang ada hanya persaingan, pembunuhan nilai, pembenaman persahabatan, pembenaluan kebutuhan nilai dan yang jelas adalah persaingan.
Dulu mereka bilang "Jika satu diantara kita tak ada yang mengerti akan penjelasan pelajaran tersebut maka minta lah bantu kepada lainnya yang mengerti, agar kita bisa sukses bersama". Tapi, semua beda dengan kenyataan yang ada sekarang.
Jangan kan lawan, teman pun sekarang akan dilibas jika menghalangi jalan teman lainnya untuk menuju sukses. Sukses disini yang dimaksud adalah masuk SNMPTN. Ya, memang untuk hal itu kita harus berusaha sendiri sendiri tapi tidak usah juga kita membunuh teman kita. Tidak usah kita bermuka dua pada teman kita. Sangat munafik ketika aku sering melihat orang mengompori temannya untuk lebih relax memikirkan UN mungkin atau SNMPTN. Munafik juga ketika aku melihat seorang teman yang membisiki teman lainnya dengan logika setan. Di katakn pada sahabatnya bahwa dia akan selalu membantu sahabatnya tersebut bahkan dia akan selalu mengerjakan bersama semua kesulitan dan pada kenyataannya dia mensetting sahabatnya untuk bekerja santai lalu dengan bangganya dia tunjukan hasil kerjanya pada bapak/ibu gurunya dan dia mendapat nilai sempurna. Tapi kasihan juga sahabat sahabat kelasnya, Dikibuli oleh orang picik!.
Ada kisah temanku yang dijauhi temannya karena dia terlampau lambat untuk mengejar SNMPTN dan ada juga kebalikannya, yaitu teman yang terlampau cepat namun dengan cara cara yang salah. Dengan cara cara menusuk teman dari belakang. Ada persahabatan yang rusak karena hal itu juga. Ada juga penyendiri yang payah, yang ditinggal temannya, yang dijauhi temannya, yang tak pernah terperhatikan temannya. Ya, dia memang bodoh tapi kenapa tak ada satu teman yang mau mengajarkannya. Mungkin aku harus, walaupun aku dan dia sama sama bodohnya!. Ada pula teman temanku yang jenius yang tak mau memandang temannya yang dibawah rata rata. "Hey bung!. Setidaknya kau mau mengajari dia!"
Ah, Jangan kaget. Ini sudah biasa. Demi sebuah tujuan, teman sikut sikutan, teman bunuh bunuhan, teman olok olokan, teman musuh musuhan, teman pun akan berujung pada hilangnya persahabatan.
Semua itu demi kata "Sukses menuju PTN Negeri dengan SNMPTN". Ya, kata itu seharusnya bagus bagi mereka yang menamakan diri manusia yang siap bersaing di bidang apapun tapi apakah persaingan akan menghilangkan persahabatan?. Apakah persaingan mengakibatkan kesenjangan?.
Seharusnya persaingan bisa dengan cara cara indah. Saling merangkul satu sama lain dan menjalankan proses bertukar fikiran sehingga dari yang tidak bisa menjadi bisa. Karena tak ada manusia yang mengetahui semuanya. Pasti juga membutuhkan informasi dari lainnya. Dan setelah proses itu terjadi, pada hari final "UN" baru kita bersaing layaknya Harry Potter melawan Voldemort tapi ingat bung! Persaingan hanya pada saat saat itu saja. Lebih dari itu kita dalah sahabat.


16.02
PrasojoRDP
Posted in:
0 bacotan:
Posting Komentar