Aku pernah membaca disebuah buku yang mengulas tentang seorang WNI keturunan Tionghoa bernama Soe Hok Gie yang menjadi kritikus bagi pemerintahan Ir Soekarno dan menjadi aktivis mahasiswa pada jamannya. Begitu banyak pelajaran tentang bagaimana cara meraih keinginan dan mimpi darinya. Sejak saat itu aku tertarik untuk menelusuri tentang dia, namun aku hanya seorang pelajar SMA kelas 3 yang sedang sibuk mempersiapkan UNAS. Aku pun tak dapat membagi waktuku untuk sepenuhnya mempelajari sikap dan cara berjuang seorang Soe Hok Gie. Sungguh sangat disayangkan.
Namun, suatu kalimat motivasi dari seorang Soe Hok Gie yang selalu aku ingat adalah “Lebih baik hidup dalam keterasingan daripada hidup dalam kemunafikan”. Beberapa bulan yang lalu saat aku pertama mengetahui sosok Soe Hok Gie, kalimat itu terasa sangat biasa bagiku. Ya, karena memang aku belum mengetahui apa arti dan apa maksud dia menulis atau mengungkapkan statemen seperti itu. Namun lambat laun pengalaman unik membawaku dan memaksaku terserat kedalam sebuah pilihan yang kesimpulannya aku simpulan sama dengan statemen Soe Hok Gie.
Sebenarnya aku tak terlalu jantan untuk hidup dalam keterasingan karena keputusan atau karena pemikiranku yang aku pertahankan dengan kokohnya. Tapi waktu adalah waktu!. Waktu menuntunku bahkan mengharuskanku seperti itu, walaupun kembali lagi aku masih belum siap menerima bahwa aku kalah atau pemikiranku terasingkan. Lantas, aku juga berfikir bagaimana enaknya hidup dalam kemunafikan?. Hidup dalam kebohongan. Hidup tanpa suara lantang yang aku teriakan. Hidup tanpa pendapatku sendiri. Hidup tanpa perlawanan dan hanya menyarah kepada keputusan orang. Bukankah kita mempunyai pemikiran sendiri yang telah dianugerahkan oleh tuhan kepada tiap tiap umatnya?. Mungkin, aku adalah salah satu orang yang ingin memanfaatkan anugerah itu sebagai keputusanku, aku adalah seseorang yang lebih percaya terhadap pemikiranku.
Aku bukan pemberontak. Aku tak akan mendoktrin orang orang yang ku temui dengan pemikiranku. Aku tak akan menyuruh mereka memilih untuk ikut aku atau dia. Aku bukan pemaksa kehendak. Namun aku juga bukan seorang “Yes Man” yang hanya bilang iya, iya dan iya.
Kenapa aku bukan pemberontak?. Karena aku bukan pemberontak yang bergerak separatis, karena aku adalah warga Negara yang baik yang berusaha menaati peraturan birokrasi dimana pun tempatku berada.
Kenapa aku tak akan mendoktrin orang orang?. Karena aku belum sempurna. Aku belum memiliki pengetahuan yang mewajibkan mereka yang aku temui untuk setuju dan seiya dengan pemikiranku.
Kenapa aku tak ingin memaksa orang untuk memilih?. Karena aku yakin bahwa setiap mannusia memiliki pemikiran yang bebas untuk memilih kepada siapa dia ikut. Jadi aku tak akan memaksa. Aku hanya member pandangan kedepannya menurutku yang mungkin bisa dia pertimbangkan. Dan lebih dari itu, semua keputusan ada pada orang yang bersangkutan.
Kenapa aku bukan pemaksa kehendak?. Karena aku tak pernah memaksa mereka untuk memilih seperti yang udah aku jelaskan diatas barusan.
Kenapa aku bukan seorang yes man?. Dengan lantang aku nyatakan, karena aku memiliki pemikiran ku sendiri yang telah tuhan anugerahkan kepadaku. Dan aku akan memanfaatkannya untuk berfikir, berfikir dan berfikir.
Entah aku harus memilih yang mana, antara hidup dalam keterasingan atau hidup dalam kemunafikan?.


12.42
PrasojoRDP
Posted in:
0 bacotan:
Posting Komentar