Banyak orang
berdebat tentang jodoh. Dari kalangan muda hingga tua, dari tahun ke tahun
“jodoh” masih menjadi sebuah kata kunci yang hangat untuk diperdebatkan. Apakah
jodoh itu?, Bagaimana memperolehnya?, Bagaimana menjaganya ketika dia sudah
berada memihak kita?, dan blablabla seterusnya.
Bagi insan manusia
yang mempercayai akan takdir dan jodoh, argument yang selalu diucap adalah
bahwa jodoh itu termasuk dalam takdir seseorang yang sudah ditentukan. Maka
dengan siapa kita berjodoh, kapan kita bertemu dengan jodoh kita, apakah orang
yang saat ini kita cintai adalah jodoh kita dan blablabla seterusnya akan kita
ketahui dan kitabdapatkan ketika waktunya sudah tiba. Mungkin yang dimaksud
waktunya sudah tiba adalah dimana kita sudah mapan. Mapan secara jasmani dan
rohani, mapan secara lahirian dan batiniah. Namun ketika kita sudah mapan
secara hal yang disebut diataspun kadang beberapa dari kita belum menemukan
jodohnya. Kenapa?. Maka jangan salahkan tuhan!. Takdir memang sudah ditentukan,
tapi ketentuan tak akan terwujud jika kau tak mengusahakannya. Sama saja
seperti ketika kita sedang kelaparan. Hanya ada 3 pilihan, berusaha mencari
uang untuk membeli makanan, meminta dan berharap pada tetangga yang baik agar
member kita makanan dan pasrah. Mana kah yang bisa mendatangkan makanan?.
Dengan berdoa pun semua bisa, karena Tuhan adalah Maha Mendengar, Maha Mengerti
dan Maha Memberi. Kita bisa dengan mudahnya mendapat makanan tapi Tuhan
menginginkan kita agar berusaha secara maksimal untuk mendapat sesuatu, lalu
tuhan akan mempermudahnya asal kita berusaha dan berdoa. Karena memang tak ada
yang Cuma Cuma tanpa usaha dan doa.
Menurut saya, jodoh
adalah sebuah penerimaan secara tulus dan ikhlas akan suatu kebaikan dan
keburukan. Hakikatny, manusia adalah makhluk yang mulia tapi tak ada manusia
yang sempurna. Sebaik-baiknya orang atau manusia pasti mempunyai sedikit cela.
Karena kebaikan dan keburukan adalah sebuah ukuran yang abstrak. Semua
penilaian tergantung pada dimana dan norma apa yang berlaku. Ketika seorang
anak kecil yang berprofesi sebagai pencuri bertempat tinggal dilingkungan
agamis maka mencuri itu haram. Namun, jika seorang anak kecil yang berprofesi
pencuri itu bertempat tinggal atau bermukim di pemukiman yang non agamis atau
berkerumun dengan para pencuri lainnya, maka mencuri itu sah sah saja!. Padahal
dia dan kita tahu bahwa pada dasarnya mencuri itu dosa.
Jodoh hanyalah bagi
mereka mereka yang mau dan mampu menerima suatu keburukan dan kebaikan
pasangannya. Namun bukan berarti ketika kita mendapat pasangan yang attitude
nya buruk maka kita biarkan saja dia
berperilaku buruk dengan alasan hak asasi!. Itu salah!. Seharusnya kita
perlahan memberinya pengertian agar dia berubah!. Mengertilah akan pasanganmu
yang akan kau sebut jodoh dan pahamilah dia. Tanamkan pada dirimu dan dirinya
bahwa tak ada kata lain selain toleransi, pengertian, sabar dan tawakkal.
Bertoleransilah untuk memperindah perbedaan yang Tuhan ciptakan untuk kalian
berdua. Mengertilah akan satu sama lain, hingga kelak akan muncul sebuah
ketidakterpaksaan dalam mencintai satu sama lain. Bersabarlah dalam menghadapi
cobaan suka yang melimpah dan duka yang berlipat. Dan bertawakkal lah akan
kelanjutan cinta dan cita hidupmu kepada Tuhan. Tentunya bertawakkalnya setelah
kau berusaha untuk menjaga jodohmu agar betah denganmu, jangan dengan kau
menelantarkan dia.
Menjaga jodoh hanya
dapat terrealisasikan bagi mereka-mereka yang patuh terhadap tuhan, berusaha
menentramkan kehidupan berdua, berdoa dengan penuh keihklasan dan kepasrahan, dan
bertoleransi serta menghormati semua hal yang layak diperlakukan seperti itu.
Kalau kata orang jangan ‘mbok jangan neko-neko, simple ae sing penting keroso’.
Semuanya kembali
lagi pada pribadi kita masing-masing. Mau bagaimana kita mendapatkannya?.


22.45
PrasojoRDP
Posted in:
0 bacotan:
Posting Komentar