Menghormati Sebuah Momen..
Malam sudah berlalu beberapa jam yang lalu tapi pagi belum kunjung datang. Aku masih terperangkap disela waktu diantaranya. Masih ditemani oleh kantuk yang tajam, berusaha aku menumpulkannya. Membuka mata kecilku yang ku rasa sangat sulit. Tapi ini adalah godaan, aku pasti bisa melawan. Ya, tentu ini godaan. Godaan melawan nafsu yang teramat menjengkelkan.
Setelah kemenangan aku dapatkan. Ku lakukan serangkaian ibadah untuk tuhan. Makan, Minum dan doa untuk jadi bekal pagi nanti berpuasa, bekal untuk memerangi nafsu agar aku tak diperbudaknya, agar aku memanfaatkannya untuk menjadi seorang pengumpul pahala.
Sebelum makan terlahap habis, segumpal darah yang telah menjadi organ tubuh, hati, mengirimkan sedikit sinyal kepada otak untuk direspon oleh syaraf syaraf yang mengharuskan ku bertindak. “Ah, aku lupa. Ramadhan kali ini beda!”.
Suatu hal yang biasanya dianggap kecil oleh mayoritas orang telah aku lupakan. Padahal hal itu lah yang aku nanti nanti. “Sayang, bangun sahur!”. Aku berusaha membangunkan wanita terpilih lewat sebuah kecanggihan teknologi yang selama ini menjadi pembantu terjalinnya silahturahmi bagi semua umat. Sekali tak dibalas, kedua kali juga, ketiga dan seterusnya terus aku coba. Ya, aku coba. Walau aku telah tahu bahwa sebenarnya dia selalu bangun lebih dulu dari pada aku. Tapi aku tetap kekeh mengirimkan pesan yang setiap pesannya berisikan harapan harapan untuk dibalas olehnya.
Ya, membangunkan sahur adalah sesuatu yang sering aku lakukan di Ramadhan – Ramadhan lalu tapi kali ini beda. Ketika yang lalu lalu aku membangunkan beberapa sahabat hati dan teman teman sejawat saja, kali ini ada seseorang yang berbeda. Ia menambah indahnya menjalani Ramadhan kali ini.
Aku tak tahu, apakah usahaku membangunkannya ini percumah atau tidak, berguna atau tidak, penting atau tidak tapi ini lah yang aku ingin lakukan. Ini Ramadhan pertama dengan seorang kekasih. Aku ingin menciptakan my sweetest moment dengan memaknai bulan yang penuh berkah ini dengan cinta yang penuh keajaiban. Sehingga aku berharap jika suatu hari nanti, aku kembali bertemu dengan Ramadhan lagi. Aku akan mengingat Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan yang berbeda.
Rasakan feelnya saat saat berpuasa bersama. Rasakan feelnya saat memestakan kemenangan bersama. Rasakan feelnya saat menahan hasrat untuk merayu rayu. Rasakan feelnya saat menahan godaan dan bisikan bisikan tak jelas. Rasakan feelnya saat menghadap tuhan bersama. Rasakan feelnya saat terbangun dan saling membangunkan ditengah tidur pulas. Rasakan feelnya saat Ramadhan ini berjalan dan selesai.
Ya, mungkin terlalu alay bagi beberapa orang yang menganggap ini alay. Dan aku pun mengakuinya bahwa ini alay. Tapi ini lah caraku memaknai sesuatu yang kecil menjadi berharga, sesuatu yang berharga menjadi istimewa dan yang istimewa menjadi luar bisa dan segala penurus penerusnya. Aku menghargai setiap momen momen yang aku dapat lakukan.
Ramadhan oh Ramadhan semoga saja aku dapat bertemu denganmu lebih banyak lagi. Semoga saat bertemu denganmu di akan datang aku masih melakukan rutinitas menghargai momen seperti yang sekarang. Semoga momen ini tetap dapat aku lakukan untuk yang ke dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali, tujuh kali, delapan kali, Sembilan kali, sepuluh kali, dua puluh kali, tiga puluh kali, empat puluh kali, lima puluh kali, enam puluh kali, tujuh puluh kali, delapan puluh kali, Sembilan puluh kali bahkan seratus kali keatas lagi bertemu dengan Ramadhan dengan ditemani oleh seorang Sastra. Atau jika tuhan membolehkan, momen ini mungkin akan dilanjutkan oleh anak anak keturunan kami. Amin


03.03
PrasojoRDP
Posted in:
0 bacotan:
Posting Komentar