Translate

Sabtu, 06 Agustus 2011

Romantisme Sastra Asmara

Kriiiiiingg... Kriiiinngg.... kkkrrrrriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnngg... Bel sekolah yang menjadi tanda bahwa rasa jenuh belajar disekolah seharian akan segera terhapuskan dari raga kita yang akan segera melakukan perjalanan menuju rumah dan merealisasikan pelepasan lelah dengan istirahat bahkan memejamkan mata dan tertidur. Sekolah seharian bagi kami adalah kegiatan yang harus dan bahkan wajib hukumnya, mungkin karena kami adalah seorang pelajar. Dan belajar disekolah yang kadang kami anggap nyaman dan kadang kami anggap sebagai tempat pembuat beban adalah kewajiban kami, para pelajar. Namun, setiap jiwa jiwa yang melakukan sebuah pencarian ilmu pasti akan merasa kesepian tapa kehadiran seorang teman, bahkan suatu hari sebagian mereka akan mendambakan seorang kekasih hati yang akan menjadi penyemangat menimba ilmu yang begitu berharga jika kita memilikinya dan mengamalkannya kepada sesama anak manusia.




Bel tanda sekolah telah selesai sudah terbunyikan dari tadi. Tapi seperti halnya hari hari sebelumnya aku sedang dalam perjalanan menginjakkan langkah langkah penuh cinta menuju tingkat dua, tepatnya menuju kelas 11 Bahasa. Hari ini terasa begitu lain dari pada hari hari dimana aku melangkahkan kakai mendaki tangga tangga yang ku hitung berjumlah dua puluh tiga anak tangga. Terasa sangat berbunga ditaman hati yang mungkin dapat dilukiskan dengan indahnya bunga bunga mawar putih yang sedang merekah indah dimusim
semi. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah aku berlibur dari aktivitas sekolah selama kurang lebih satu minggu. Ku bayangkan aku akan bernostalgia melepas rasa kangen yang sudah teramat sangat dalam kepada seorang gadis maniak hal hal yang berbau korea dihari pertama aku masuk sekolah. Eh ternyata bayanganku melenceng. Aku harus bersabar menunggu satu hari lagi untuk bertemu dengan gadis itu karena sekarang gadis itu sedang menikmati keasrian kota malang yang terkenal dengan tim sepak bola Arema dan Persema itu. Mungkin hari ini aku tidak dibolehkan oleh tuhan bertemu dengan gadis itu. Mungkin tuhan tahu apa yang pas bagi aku. Dan jika boleh menerka nerka maksudnya adalah tuhan membatalkan pertemuanku dengan gadis itu agar bertambah selevel lagi rasa kangen yang sudah terpelihara dengan sistematisnya buat wanita yang aku yakini akan menjadi ibu dari anak anakku itu. Maka aku tak akan menyesal sedikitpun akan keputusan ini, aku berterima kasih kepada tuhan atas bertambahnya rasa kangenku ini.




Dihari kedua masuk sekolah, keyakinanku bahwa rasa rinduku akan segera terbunuh oleh pertemuan mesra kembali menyapa. Namun ketika detak jantungku menjadi semakin bergetar cepat, cepat dan sangat cepat ternyata aku harus bersabar lagi menunggu bertatap muka dengan gadis nomor 1 disekolahku itu. Menunggu sang ketua osis yang juga merangkap siswa kelas bahasa itu menyelesaikan tugas piketnya sebagai murid yang patut diteladani. Singkat cerita nih, aku udah ketemu sama si dia. Tapi perasaan aneh ini tiba tiba muncul kembali. Aku yang sudah pernah berpacaran 5 kali kembali menjadi seperti orang yang baru mengalami percintaan yang pertama. Aku menjadi kikuk setiap bertatap muka dengan dia. Huuuuft.. Karena satpam bertubuh gumpal, berkumis tebal, dan berwajah seperti kadal telah meniupkan peluit tanda semua siswa harus segera mengosongkan sekolah. Aku pun dengan berat hati bergegas meninggalkan kelas 11 bahas yang mungkin 10 tahun lagi akan menjadi kenangan indah dalam kehidupan rumah tanggaku dengan dia atau bahkan hanya akan menjadi kenangan yang sepintas lalu menghilang terbawa hembusan angin serta tak meninggalkan bekas ketika kelak aku dengan dia tidak bisa bersanding bersama dipelaminan. Ya, rencana yang terlalu muluk bagi sepasang kekasih yang melakukan percintaan dimasa masa SMA yang masih jauh dari pernikahan.




“kenapa sih aku liat kamu kalo pacaran sama sastra nggak pernah ada romantis – romantisnya?”, Kata teman lamaku yang dulu sekelas denganku waktu kelas satu. “ehm, gimana ya?, susah mah jawabnya.”, sahutku. “Ya aku liat kalian slalu pulang bareng tapi bawa motor sendiri – sendiri?. Lucu dan nggak ada romantisnsya sama sekali. Bahkan kalian nggak pernah sedikitpun terlihat bermesraan disekolah?”, lanjutnya. Aku yang dasarnya bersifat super cuek pangkat kuadrat nggak peduli omangan anak itu, aku anggep sebuah kritikan aja. Eh tiba tiba waktu aku melakukan perjalanan menuju rumah teringat perkataan tadi terus menerus!. Dan timbul sebuah tanda tanya bagi orang sepertiku yang seharusnya tidak harus menanyakan hal ini, apalagi track recordku sudah 5 kali berpacaran. “Apa sih romantis itu?. Kenapa sih aku dijudge tidak romantis kepada pasanganku?. Bagaimana sih jadi lelaki yang romantis?”. Berkat celetukan temanku tadi aku jadi gelisah sepanjang perjalanan hingga akhirnya aku menyampai istana terbesar yang pernah ayah dan ibuku bangun untuk melindungi anak anaknya dari panasnya terik matahari dan dinginnya air hujan yang bercampur angin. Aku langsung merebahkan tubuhku yang penuh dengan keceriaan, kelelahan, kebingungan dan kekontradiksian perasaan. Berjam jam aku mencoba mematahkan pertanyaan – pertayaan yang aku bangun dengan rapi dan kokoh.




Rasa kebodohan yang semakin menjadi besar setiap aku memikirkan jawaban ini membenamkan pengalaman kecilku dalam hal berpacaran kedalam liang terjauh yang tidak terfikirkan olehku. Aku bertanya kebeberapa sahabat tentang pertanyaan pertanyaanku. Maka tampaklah aku seperti orang culun kurang pergaulan yang sedang fallin in love untuk pertama kalinya.




“Romantis itu perlu! Tapi jangan terlalu alay. Kealayan dalam keromantisan akan membuat pasanganmu jadi ilfil.”, lanjut sahabat perempuan yang enggan disebutkan namanya.




“Semua itu relatif, tergantung si cewek dan si cowoknya sendiri. Ada yang suka romantis ada juga yang nggak suka romantis bahkan ada yang ambigu, kadang suka romantis namun kadang tidak suka romantis. Keromantisan suatu hubungan tidak terlalu perlu untuk dipermasalahkan. Dan menurut gue cewek atau cowok yang romantis itu adalah yang bisa manjain serta jagain pasangannya.”, adalah jawaban dari juel (teman FB jauh! yang juga mantan pacarnya vokalis bandku).




“Gak penting sih!. Nggak perlu jadi romantis tapi jadi diri sendiri aja!. Jangan terpengaruh gaya berpacaran orang lain tapi ciptain gaya pacaran sendiri yang kalian yakini adalah jalan yang benar!. Kalau emang gak romantis ya mau diapain lagi?. Tapi kalau kamu pengen jadi sosok yang romantis kamu harus selalu ada disetiap dia susah dan senang. Juga harus seling ngisi satu sama lain!”, jawab pacar dari sahabat terbaikku dikelas. Dan aku harap jawaban ini akan membawa mereka ke gaya berpacaran yang baik dan menuai hasil yang bagus, yaitu kelanggengan yang tanpa batas.




“Romantis itu saling ngerti sambil manja – manjaan. Dan itu sangat perlu. Kalo kriteria cewek romantis menurut gw ya, dia itu suka manja sama kita dan ngerti juga dimana kita romantis. Ya pendeknya sih, harus koneklah pokoknya. Kalo cowok yang romantis ya yang sering manjain ceweknya. Hehehe... Intinya saling ngerti aja dah!, ntar juga bakal tercipta sendiri kemanjaan berdua yang bisa jadi keromantisan”, ungkap sahabatku yang sekarang berhubungan tanpa status dengan sahabat cewekku.


Hush. Dari sekian jawaban, sama sekali nggak ada yang srek dihatiku!. Ada tapi Cuma satu dua dan nggak semuanya yang mereka ucapin itu cocok buat aku. Aku nggak comfort dengan jawaban jawaban mereka. Ah, malah menambah kepusingan kepalaku. Tapi tunggu dulu. Ada sms yang masuk diinbox nokia C3ku. Setelah aku lihat, baca dan tela’ah. Inilah jawaban yang aku cari cari cari!. Yes, i get it.






Setelah aku berandai – andai bahwa romantis adalah hal – hal yang seperti dideskripsikan beberapa temanku, bahkan aku sempat menghubungkan romantis dengan hal – hal kecil yang dapat menjadi besar yang dilarang oleh agama yang sangat aku yakini. Akhirnya aku mengukuhkan pada diriku sendiri bahwa suatu keromantisan itu adalah hal yang penting – penting nggak penting. Hal yang aku anggap akan tercipta sendiri pada saatnya dia akan tercipta. Romantis adalah vetsin, agar dapat menjadi bumbu penyedap dalam kisah percintaan para keturunan adam dan hawa. Romantis bukan hanya sekedar berpegang tangan, bermanja - manjaan, berdua – duaan, bertukar fikiran, saling melindungi, saling menguatkan bahwa lebih dari sekedar first kiss yang orang awam kira bahwa first kiss dari orang tersayang akan menjadi kissing teromantis mereka selamanya, bukan berbuat zina kecil maupun besar yang mengatasnamakan rasa sayang yang telah lama mengendap dalam hati hingga jadi kesalahan dalam menafsirkan rasa sayang itu menjadi rasa zina yang nista.




Aku yakin bahwa keromantisan adalah hubungan timbal balik antara pasangan, terciptanya rasa saling membutuhkan, terciptanya rasa saling dibutuhkan, rasa saling menjaga satu sama lain, tindakan mengapreasiasikan rasa sayang dalam bentuk yang benar dari sudut pandang agama yang kita anut dan bukan dari sudut pandang nafsu, dan hal – hal yang bisa kita lakukan untuk membuat hidup pasangan menjadi lebih bermakna dari segi duniawi maupun akhirat, serta rasa saling menjaga suatu larangan tuhan hingga kelak akan tuhan halalkan bagi semua pasangan yang sudah mengikuti aturan – aturan mainnya. Romantis juga tentang apa yang sudah kamu lakukan, hasilkan, berikan, dan semuanya untuk pasanganmu.




“oalah. Hahahaha. Dan menurutku apa yang kamu lakukan ini adalah suatu hal yang romantis”, itu adalah sms ke 1102 yang masuk diinboxku. Tentu saja itu sms dari seorang yang mungkin akan menjadi pendampingku dalam kehidupan didunia dan diakhirat jika tuhan mengijinkan dia untukku, Sastra Asmara. Yang dimana namanya akan dijadikan judul dari semua tulisan – tulisan ini. Dan ini adalah sebuah tulisan yang didedikasikan kepada dia. Dengan keindahan nama yang telah ibunya berikan, aku jadi bergairah lagi menjalani kehidupanku untuk menghasilakan sesuatu yang bisa dikenang selamanya dna bukan hanya menjadi suatu kenangan yang akan hilang terkunyah bercampur air ludah sang waktu. Sebuah nama dari sesosok wanita yang memberi pelajaran bagai rektor tertinggi yang pernah ada didunia untukku, pelajaran yang memberikan warna pada buku hitam putih hidupku.




Surabaya, 04 januari 2011 pukul 20:27 WIB aku mengakhiri tulisan ini. Salam kasih bagi hamba Allah keturunan Hawa dari seorang hamba Allah keturunan Adam yang berbekal kekuatan cinta yang mungkin akan berhenti jika Allah juga menghentikan nafasku.

0 bacotan:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes