Ditengah raungan malam yang membuas dan siap menerkam jiwa terlelah
Aku masih saja menjadi manusia terkuat
Masih saja melakukan tarung dengan malam
Menjadikan mataku terjaga menahan tusukan belati kantuk yang tajam
Ditengah raungan malam mencekam
Organ tubuh pemikir yang terisi ketidaktahuan, aktif berjibaku melawan perasaan
Namun isyarat kekalahan sudah lama menyambut tadi
Menandakan perasaan yang belum tentu sucinya menang
Semakin aku menjadi lawan paling tangguh raungan malam
Kemenangan perasaan semakin membabi buta menggerogoti logika logika dalam organ
pemikirku
Hanya ada beberapa pemikiran yang terkontaminasi dengan tanya, bahkan sudah terlebur
membaur menjadi sebuah doa dan harapan sekaligus tanya pada Tuhan.
“Tuhan, jadikan hamba menjadi hamba yang menuruti semua yang kau kehenndakkan!.”
“Dan jika memiliki gadis itu adalah perjalanan yg hendak merubah negatifku, maka
hendaklah jadikan gadis itu positifku.”
Sampai pada titik terlemas perlawananku pada raungan malam
Aku merasa aku akan segera tersingkirkan ketika fajar menyongsong
Harapanku mulai kemana mana
Menelusuri apa yang akan terjadi ketika aku sudah terbunuh raungan malam
Tapi perasaan ini masih saja statis
Tak ada ubahnya saat pertarungan dimulai
Hanya terpaku pada satu nama yang menjadi indah setiap ejaan hurufnya aku baca
Tertuju lurus tepat menuju sebuah nama besar yang roh ku idamkan mampu merubah sedikit
demi sedikit sifat binatang yang masih saja tertanam padaku jasadku ini
Siapapun mungkin tak perlu tahu siapa nama itu
Kisah kita Cuma kita yang tahu


19.48
PrasojoRDP
Posted in:
0 bacotan:
Posting Komentar